Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi Pengertian Harta Haram Harta haram (اَلْمَالُ الْحَرَامُ) menurut terminologi Syariah Islam adalah : اَلْمَالُ الْحَرَامُ هُوَ كُلُّ مَالٍ حَرَّمَ الشَرْعُ عَلىَ الْمُسْلِمِ تَمَلُّكَهُ وَاْلِإنْتِفَاعَ بِهِ “Harta haram adalah setiap harta yang diharamkan syariah atas muslim untuk memilikinya dan memanfaatkannya.” (‘Abbās Ahmad Muhammad Al-Bāz, Ahkām Al-Māl Al-Harām, hlm. 39). Jadi seorang muslim yang mempunyai harta haram, baik harta yang haram dari segi zatnya, misalnya harta berupa benda hajis, misalnya babi, khamr, anjing, dan sebagainya, maupun harta yang haram dari segi cara memperolehnya, seperti harta dari korupsi, harta dari suap menyuap, harta gratifikasi pejabat, dan sebagainya, maka dia akan berdosa kepada Allah dalam dua keadaan, sebagai berikut; Pertama, muslim itu berdosa ketika dia memiliki harta haram tersebut. Jadi, memiliki harta haram saja sudah merupakan dosa, walau pun harta itu belum diapa-apakan oleh pemiliknya. Misalnya, seseorang yang mendapatkan hadiah zat najis (seperti babi, khamr, dsb), atau dia mendapatkan transferan uang riba (seperti bunga deposito, dsb) ke dalam rekeningnya di sebuah bank. Orang yang mendapat hadiah itu atau yang menerima transferan itu kemudian mendiamkan hadiah atau uang itu begitu saja. Dia belum memanfaatkan sama sekali harta itu. Misalnya khamrnya dia simpan saja di lemari, belum dia minum. Atau uang transferan itu belum dia gunakan untuk membeli sesuatu, atau belum ditransfer kepada istrinya, anaknya, dan sebagainya. Tetapi walau pun demikian, dia sudah dihitung berdosa kepada Allah, karena sekedar memiliki harta haram saja, sudah merupakan perbuatan haram yang menimbulkan dosa kepada Allah SWT. Kedua, muslim itu berdosa ketika dia memanfaatkan harta haram tersebut. Jadi, ketika hadiah khamr itu dia minum, atau ketika transferan uang haram itu kemudian ditransfer lagi oleh pemilik rekening kepada istrinya, atau kepada anaknya, atau digunakan untuk membeli sesuatu, atau untuk membayar utang, maka dia berdosa kepada Allah, karena memanfaatkan harta haram, merupakan perbuatan haram yang menimbulkan dosa kepada Allah SWT. Macam-Macam Harta Haram Menurut Syekh ‘Atha Abu Rasyta, harta haram itu ada tiga macam, yakni sebagai berikut : Pertama, harta berupa zat najis. Seperti babi, bangkai, darah, anjing, khamr, dll. Kedua, harta yang diperoleh dari non-muamalah. Harta ini merupakan harta yang diperoleh secara sepihak, dan tidak ada saling ridho di antara kedua pihak. Misal : harta curian, harta rampokan, harta begalan, harta rampasan, dan sebagainya. Ketiga, harta yang diperoleh dari muamalah yang haram. Harta ini merupakan harta yang diperoleh dengan saling ridho dari kedua pihak, tetapi diharamkan syariah. Misalnya harta suap menyuap, gratifikasi pejabat, harta riba, gaji dari pekerjaan ribawi (pegawai bank, pegawai leasing, pegawai pegadaian, notaris pencatat riba, pegawai koperasi simpan pinjam, dll). (‘Atha Abu Rasyta, Soal Jawab, tertanggal 5 april 2017; https://old.hizb-jordan.org/index.php/contents/entry_600). Delapan Akibat Harta Haram Ada 8 (delapan) dampak dari harta haram yang akan menimpa seorang muslim yang memiliki harta haram, yaitu sebagai berikut : (Lihat : https://www.alukah.net/sharia/0/131621/العقوبات-الثمانية-لمن-أكل-المال-الحرام) Pertama, Doa Pemilik Harta Haram Tidak Dikabulkan Allah. Dalilnya hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda,"Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah itu Mahabaik, tidak menerima kecuali perkara yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Allah SWT berfirman : يآ أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ 'Wahai para rasul! Makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. Al-Mu`minūn: 51). Allah SWT juga berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.' (QS. Al-Baqarah: 172). Lanjutan hadits tersebut : ثم ذكر الرجلَ يُطيلُ السفرَ أشعثَ أغبَرَ، يمُدُّ يديه إلى السماءِ: يا رب، يا رب، ومطعمُه حرامٌ، ومَشرَبُه حرامٌ، وملبسُه حرامٌ، وغُذي بالحرام، فأنى يُستجَابُ لذلك “Kemudian Rasulullah SAW mengisahkan seorang laki-laki yang mengadakan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (sembari berkata), "Ya Tuhanku, ya Tuhanku," sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan yang haram, lantas bagaimana doanya bisa dikabulkan?". (HR. Muslim). Kedua, Harta Haram Dicabut Berkahnya Oleh Allah. Dalilnya firman Allah SWT : يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa.” (QS Al-Baqarah : 276). Rasulullah SAW bersabda : ما أحدٌ أكثرَ من الربا إلا كان عاقبَةُ أمرِه إلى قِلَّةٍ “Tidaklah seseorang memperbanyak hartanya dari riba, kecuali akhir urusannya adalah sedikitnya (harta).” (HR. Ibnu Majah, hadits shahih). Rasulullah SAW bersabda : اليمينُ الكاذبةُ مُنفِّقَةٌ للسلعةِ مُمحِقةٌ للبركةِ “Sumpah (palsu) akan melariskan dagangan, tetapi akan menghilangkan berkah.” (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW bersabda : البيِّعانِ بالخِيارِ ما لم يتفرَّقَا - أو قال: حتى يتفَرَّقا - فإن صدَقا وبيَّنَا، بورِك لهما في بيعِهما، وإن كتمَا وكذَبا، مُحِقَتْ بركةُ بيعِهما “Penjual dan pembeli mempunyai khiyar selama belum berpisah, maka jika keduanya jujur dan menerangkan (cacat barang), maka mereka akan diberkahi dalam jual belinya, tetapi jika mereka menyembunyikan (cacat barang) dan berdusta, maka hilangkah keberkahan jual belinya.” (HR Bukhari dan Muslim). Ketiga, Allah Akan Menimpakan Kerugian Dan Kehancuran (Di Dunia Dan Akhirat) Kepada Pemilik Harta Haram Dalilnya firman Allah SWT : يآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika kamu bertobat, kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS Al-Baqarah : 278-279). Keempat, Pemilik Harta Haram Akan Mendapat Kemurkaan Dari Allah. Dalilnya firman Allah SWT : إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (QS Ali ‘Imran : 77). Ada satu riwayat hadits Nabi SAW yang terkait dengan ayat di atas : عن الأشعث بن قيس - رضي الله عنه - قال: كان بيني وبين رجل خصومة في بئر، فاختصمنا إلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: "شاهداك أو يمينه"، قلت: إذًا يحلف ولا يبالي، فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: "من حلف على يمين صبر يقتطع بها مال امرئ مسلم، لَقِيَ الله وهو عليه غضبان". أخرجه البخاري (2417)، ومسلم (138)، وأبو داود (3621)، والترمذي (1269)، وابن ماجه (2322) واللفظ له، وأحمد (21837) Dari Al-Asy’at bin Qais RA dia berkata, “Saya dengan seorang laki-laki terlibat sengketa mengenai sebuah sumur, lalu kami berdua meminta penyelesaian sengketa kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda,”Tunjukkan dua saksi kamu, atau dia bersumpah.” Aku berkata,”Jadi, dia akan bersumpah dan tidak peduli?” Rasulullah SAW bersabda,”Siapa saja yang bersumpah dengan tujuan bermaksud mengambil harta seseorang padahal dia bersumpah dengan curang (dusta) maka nanti dia akan berjumpa Allah 'aAzza wa Jalla, dalam kondisi Allah murka kepadanya." Maka Allah menurunkan ayat tadi (QS Ali ‘Imran : 77) sebagai pembenaran atas hal itu. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Kelima, Pemilik Harta Haram Akan Mendapat Laknat Dari Allah. Dalilnya hadits dari Jabir RA bahwa : لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا، ومؤكله، وكاتبه، وشاهديه، وقال هم سواء “Bahwa Rasulullah SAW telah melaknat orang yang memungut riba, yang membayar riba, pencatat riba, dan dua saksi riba.” Rasulullah SAW bersabda : “Mereka sama-sama berdosa.” (HR. Muslim). Dari Abdullah bin ‘Amar RA : سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول لعنَ الله الراشي والمرتشي “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,’Allah melaknat setiap orang yang menyuap dan yang disuap.” (HR Tirmidzi) Keenam, Pemilik Harta Haram Akan Menerima Azab dari Allah Di Akhirat. Dalilnya sabda Rasulullah SAW : إن رجالًا يتخوَّضون في مالِ الله بغيِر حقٍّ، فلهم النارُ يومَ القيامةِ “Sesungguhnya orang-orang yang mengelola harta Allah secara tidak benar, maka bagi mereka neraka pada hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari). Sabda Nabi SAW kepada Ka’ab bin ‘Ujrah RA: يا كعبُ بن عُجرة، لا يدخلُ الجنةَ من نبَتَ لحمُه من سُحْتٍ، النارُ أولَى به “Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidak masuk surga orang yang tumbuh dagingnya dari harta haram, neraka lebih layak baginya.” (HR Ahmad, Al-Darimi, dan Al-Hakim). Ketujuh, Allah Tidak Menerima Sedekah (Termasuk Zakat) Dari Pemilik Harta Haram. Dalilnya sabda Rasulullah SAW : لا تُقبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ، وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُوْلٍ “Tidak akan diterima sholat tanpa bersuci dan tidak akan diterima sedekah dari ghulul (harta haram).” (HR. Muslim). Sabda Nabi SAW : مَنْ جَمَعَ مَالًا حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ لَمْ يكنْ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ، وَكَانَ إِصْرُهُ عليهِ “Barangsiapa mengumpulkan harta yang haram, lalu dia bersedekah dengan harta haram itu, maka dia tidak mendapat pahalanya, dan bahkan dia mendapat dosa.” (HR. Ibnu Khuzaimah, hadits shahih). Kedelapan, Allah Akan Menyiksa Pemilik Harta Haram Dengan Memikulkan Harta Haram Di Lehernya Pada Hari Kiamat. Dalilnya firman Allah : وَمَنۡ يَّغۡلُلۡ يَاۡتِ بِمَا غَلَّ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ “Barang siapa mengambil harta secara khianat (haram), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya.” (QS Ali ‘Imran : 161). Rasulullah SAW bersabda menjelaskan lebih lanjut firman Allah SWT tersebut : لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ...لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ...لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، "Jangan sampai pada hari kiamat aku dapati salah seorang dari kalian datang dengan memikul unta di lehernya yang sedang melenguh-lenguh...Jangan sampai pada hari Kiamat kelak, aku dapati salah seorang dari kalian datang dengan memikul kuda di lehernya yang meringkik-ringkik...jangalah aku dapati salah seorang di antara kalian memikul di lehernya kambing yang mengembek-embek...” (HR. Muslim, no. 3412). Ya Allah, berilah kepada kami petunjuk untuk hidup dengan harta-Mu yang halal, dan hindarkan kami dari harta-harta yang Engkau haramkan atas kami! Aamiin. Yogyakarta, 27 November 2025 Muhammad Shiddiq Al-Jawi
Bagi para pembaca yang ingin menanyakan masalah Agama kepada KH. M. Shiddiq Al Jawi, silakan isi form pertanyaan di bawah ini. KH. M. Shiddiq Al Jawi insya Allah akan berusaha menjawab pertanyaan dari para pembaca melalui email.