Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi Tanya : Assalamualaikum. Ustadz, saya Condro dari Pontianak izin bertanya apakah ahli waris yang mendapatkan wasiat tetap mendapatkan haknya sebagai ahli waris? (Condro, Pontianak). Jawab : Hukum asalnya adalah tidak boleh ada wasiat kepada ahli waris, kecuali jika ahli waris membolehkan atau mengizinkan, maka boleh hukumnya ada harta wasiat kepada ahli waris. Dalilnya sabda Rasulullah SAW : إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ؛ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ. أخرجه ابن ماجه (2713)، وابن أبي شيبة (30716)، والبيهقي (12331) واللفظ لهم، وأحمد (22294) “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada setiap-tiap yang berhak akan haknya, maka tidak ada harta wasiat kepada ahli waris.” (HR. Ibnu Majah, no. 2713, Ibnu Abi Syaibah, no. 30716, Al-Baihaqi, no. 12.331, dan Ahmad 22.294). Dalam kitab ‘Aunul Ma’būd Syarah Sunan Abū Dāwūd, hadits di atas diberi syarah (penjelasan) sebagai berikut : قَالَ الْخَطَّابِيُّ : هَذَا إِشَارَةٌ إِلَى آيَةِ الْمَوَارِيثِ ، وَكَانَتِ الْوَصِيَّةُ قَبْلَ نُزُولِ الْآيَةِ وَاجِبَةً لِلْأَقْرَبِينَ ، وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى : (كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إن ترك خيرا الوصية للوالدين والأقربين)، ثُمَّ نُسِخَتْ بِآيَةِ الْمِيرَاثِ .وَإِنَّمَا تَبْطُلُ الْوَصِيَّةُ لِلْوَارِثِ فِي قَوْلِ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَجْلِ حُقُوقِ سَائِرِ الْوَرَثَةِ ، فَإِذَا أَجَازُوهَا، جَازَتْ ، كَمَا إِذَا أَجَازُوا الزِّيَادَةَ عَلَى الثُّلُثِ لِلْأَجْنَبِيِّ، جَازَ “Imam Al-Khaththabi berkata,’Hadits ini memberi isyarat (petunjuk) kepada ayat-ayat waris, bahwa wasiat harta sebelum turunnya ayat-ayat waris itu, hukumnya wajib (untuk) kaum kerabat, yaitu sesuai firman Allah Tā’lā,’Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf.’ (QS. Al-Baqarah : 180). Kemudian ayat wasiat ini dihapuskan (di-nasakh) oleh ayat-ayat waris. Jadi wasiat ini dibatalkan karena menurut mayoritas ulama pembatalan itu adalah untuk menjaga hak-hak para ahli waris. Maka jika para ahli waris itu membolehkan adanya wasiat (kepada ahli waris), maka hukumnya boleh, sebagaimana jika para ahli waris membolehkan (wasiat) lebih dari sepertiga bagi orang asing (non ahli waris), berarti boleh hukumnya (wasiat lebih dari sepertiga kepada non ahli waris).” (Syaikh Muhammad Syamsul Haq Al-'Azhīm Ābādī , ‘Aunul Ma’būd, 8/52). Berdasarkan syarah hadits tersebut, jelaslah terdapat 2 (dua) hukum syara’ dalam masalah ini, yaitu dalam masalah apakah boleh wasiat kepada ahli waris, sbb : Pertama, hukum asalnya adalah tidak boleh menurut syara’ wasiat kepada ahli waris. Ketiga, kemudian ada kondisi perkecualian dari hukum asal tersebut, yaitu boleh ada wasiat kepada ahli waris jika ahli waris membolehkan atau mengizinkan. Kedua hukum syara’ tersebut merupakan hukum syara’ yang telah disepakati oleh para ulama, tanpa ada khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara ulama tersebut. Berikut ini kami kutipkan sebagian pendapat ulama mengenai adanya kesepakatan (ijma’) ulama tersebut (sumber www.dorar.net) : Pertama, penjelasan Imam Ibnu Abdil Barr : قال الإمام ابنُ عبد البَرِّ: (قال مالكٌ: السُّنةُ التي لا اختلافَ فيها عندَنا: «أنها لا تجوزُ وَصيَّةٌ لوارثٍ»، وهذا كما قال مالكٌ رحِمَه اللهُ، وهي سُنَّةٌ مُجتمَعٌ عليها، لم يَختلِفِ العُلماءُ فيها إذا لم يُجِزْها الورثةُ). (ابنُ عبد البَرِّ ،التمهيد ج 24 ص 438). Imam Ibnu Abdil Barr berkata,”Imam Malik berkata,’Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini menurut kami, bahwa ‘Tidak boleh wasiat kepada ahli waris.’ Hal ini, sebagaimana perkataan Imam Malik, rahimahullāh, merupakan ketentuan As-Sunnah yang disepakati, yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama di dalamnya, jika para ahli waris tidak memperbolehkannya.” (Ibnu ‘Abdil Barr, Al-Tamhīd, Juz ke-24, hlm. 438). Kedua, penjelasan Imam Ibnul Mundzir: قال الإمام ابنُ المُنذِرِ: (أجمَعَ كلُّ مَن نَحفَظُ عنه مِن عُلماءِ الأمصارِ؛ مِن أهلِ المدينةِ، وأهلِ مكَّةَ، وأهلِ الكوفةِ، والبصرةِ، وأهلِ الشامِ، ومِصرَ، وسائرِ العُلماء مِن أهلِ الحديثِ، وأهلِ الرأْيِ؛ على أنْ لا وَصيَّةَ لوارثٍ إلَّا أنْ يُجِيزَ ذلك الورَثةُ). (ابنُ المُنذِرِ، الأوسط، ج 8 ص 22) Imam Ibnul Mundzir berkata,”Telah sepakat para ulama dari ahli amshār (penduduk kota-kota besar Islam seperti Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam, Mesir), dan semua ulama ahli hadits dan ahlu ra`yi, yang (ilmunya) kami hafalkan, bahwa tidak ada wasiat kepada ahli waris, kecuali para ahli waris membolehkannya.” (Ibnul Mundzir, Al-Awsath, Juz ke-8, hlm. 22). Ketiga, penjelasan Ibnu Rusyd: قال ابن رشد: (أمَّا الموصَى له فإنَّهم اتَّفَقوا على أنَّ الوصِيَّةَ لا تَجوزُ لوارثٍ... وأجْمَعوا -كما قُلنا- أنَّها لا تَجوزُ لوارثٍ إذا لم يُجِزْها الورَثةُ). (ابن رشد، بداية المجتهد ج 4 ص 114). Ibnu Rusyd berkata,”Adapun orang yang diberi wasiat, mereka (para ulama) telah sepakat bahwa wasiat tidak diperbolehkan bagi ahli waris…dan mereka juga bersepakat --seperti yang sudah kami katakan-- bahwa wasiat itu tidak boleh bagi ahli waris jika para ahli waris tidak memperbolehkannya.” (Ibnu Rusyd, Bidāyatul Mujtahid, Juz IV, hlm. 114). Ketiga, penjelasan Imam Ibnu Qudamah : قال الإمام ابن قدامة: (إذا وصَّى لوارِثِه بوَصِيَّةٍ فلمْ يُجِزْها سائِرُ الوَرَثةِ، لم تَصحَّ بغيرِ خِلافٍ بيْنَ العُلماءِ). (ابن قدامة ،المغني ج 6 ص 141). Imam Ibnu Qudamah berkata,”Jika seseorang berwasiat kepada ahli waris dengan suatu harta wasiat, lalu harta wasiat itu tidak diperbolehkan oleh ahli-ahli waris lainnya, mala tidak sah harta wasiat itu tanpa perbedaan pendapat di antara para ulama.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughnī, Juz VI, hlm. 141). Keempat, penjelasan Imam Ibnu Taimiyyah: قال الإمام ابن تيمية: (الوَصيَّةُ للوارِثِ لا تَلزَمُ بدونِ إجازةِ الورَثةِ باتِّفاقِ المسلمينَ). (ابن تيمية ، مجموع الفتاوى ج 35 ص 424). Imam Ibnu Taimiyyah berkata,”Wasiat kepada ahli waris itu tidaklah mengikat (berlaku) tanpa ada pembolehan para ahli waris, sesuai kesepakatan di antara kaum Muslimin.” (Ibnu Taimiyyah, Majmū’ul Fatāwā, Juz ke-35, hlm. 424). Berdasarkan kutipan-kutipan mengenai ijma’ ulama tersebut, jelaslah bahwa wasiat kepada ahli waris itu hukum asalnya tidak boleh, kecuali jika para ahli waris membolehkan atau mengizinkan. Para ulama menjelaskan, ada 2 (dua) syarat untuk pemberian harta wasiat kepada ahli waris tersebut, sebagaimana penjelasan sbb : وَأَجَازَهَا الْفُقَهَاءُ بِشَرْطَيْنِ: اَلثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْإِجَازَةُ بَعْدَ مَوْتِ الْمُوصِي- عَلَى اخْتِلَافٍ فِي بَعْضِ اَلتَّفَاصِيلِ-. “Para fuqoha` membolehkan (wasiat) untuk ahli waris dengan dua syarat, yaitu; Pertama, ahli waris yang membolehkan haruslah termasuk ahlut tabarru’, yaitu orang yang layak atau boleh memberikan shadaqah, yaitu dia haruslah orang yang baligh (dewasa), berakal, dan tidak sedang mendapat sanksi hajr (oleh hakim syariah) karena boros, atau karena cacat mental, atau karena sakit keras menjelang ajal, dan dia haruslah mengetahui (mengenal) perihal orang yang mendapat wasiat. Kedua, pembolehan (wasiat oleh para ahli waris) itu terjadi setelah kematian pihak yang berwasiat, sesuai perbedaan pendapat ulama mengenai sebagian rincian-rincian untuk hal ini. (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/25102). Lalu, bagaimana jika para ahli waris tidak sepakat, yakni sebagian membolehkan wasiat kepada ahli waris sedang sebagian lainnya tidak membolehkannya? Jawabannya adalah, bagian waris dari pihak yang menolak wasiat, diberikan apa adanya kepada mereka. Sedang bagian ahli waris yang membolehkan, diberikan kepada ahli waris yang diberi wasiat oleh pihak yang mewariskan (almarhum). Dalam masalah ini, terdapat pendapat Imam Malik, rahimahullāh, sebagai berikut : قَالَ الْإِمَامُ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ: السُّنَّةُ الثَّابِتَةُ عِنْدَنَا الَّتِي لَا اخْتِلَافَ فِيهَا أَنَّهُ لَا تَجُوزُ وَصِيَّةٌ لِوَارِثٍ، إِلَّا أَنْ يُجِيزَ لَهُ ذَلِكَ وَرَثَةُ الْمَيِّتِ، وَأَنَّهُ إِنْ أَجَازَ لَهُ بَعْضُهُمْ، وَأَبَى بَعْضٌ، جَازَ لَهُ حَقُّ مَنْ أَجَازَ مِنْهُمْ، وَمَنْ أَبَى أَخَذَ حَقَّهُ مِنْ ذَلِكَ. اهـ. “Imam Malik dalam Al-Muwaththa` berkata,’Menurut ketentuan As-Sunnah yang telah tetap menurut kami, bahwa tidak diperbolehlan wasiat kepada ahli waris, kecuali jika para ahli waris memperbolehkannya. Dan jika sebagian ahli waris membolehkan, sedang sebagian lainnya tidak memperbolehkan, maka boleh ahli waris (yang diberi wasiat itu) mendapat hak dari bagian yang membolehkan, sedangkan pihak yang tidak memperbolehkan, mengambil haknya dari itu.” (Imam Az-Zarqānī, Syarah Az-Zarqānī ‘Alā Al-Muwaththa` Al-Imām Mālik, Juz IV, hlm. 121). Demikianlah jawaban kami, semoga bermanfaat. Wallāhu a’lam. Yogyakarta, 11 Januari 2026 Muhammad Shiddiq Al-Jawi = = = Referensi : https://dorar.net/feqhia/6358/ المطلب-الثاني-الوصية-للوارث-إذا-لم-يجزها-الورثة https://islamqa.info/ar/answers/257043
اَلْأَوَّلُ: أَنْ يَكُوْنَ الْمُجِيْزُ مِنْ أَهْلِ التَّبَرُّعِ - أَيْ بَالِغاً عَاقِلاً غيَرْ َمَحْجُوْرِ عَلَيْهِ لَسفهٍ أَوَ عتهٍ أَوْ مَرَضِ مَوْتٍ، وَأَنْ يَكُوْنَ عَالِماً بِالْمُوْصَى بِهِ.
Bagi para pembaca yang ingin menanyakan masalah Agama kepada KH. M. Shiddiq Al Jawi, silakan isi form pertanyaan di bawah ini. KH. M. Shiddiq Al Jawi insya Allah akan berusaha menjawab pertanyaan dari para pembaca melalui email.